Epidemiology of recurrent aphthous stomatitis on the students of University of East Indonesia Makassar

Epidemiologi stomatitis aftosa rekuren pada mahasiswa Universitas Indonesia Timur Makassar

  • Masriadi .
Keywords: epidemiologi, determinan, stomatitis aftosa rekuren

Abstract

Latar belakang: Stomatitis aftosa rekuren (SAR) merupakan salah satu kasus yang sering dijumpai oleh dokter gigi di seluruh dunia. SAR pada tahap awal umumya sakit, dapat sembuh sendiri dalam waktu 10-14 hari tanpa pengobatan dan dapat kambuh kembali.WalaupunSARtidakmengancamhidup tetapi dapat mengurangi kualitas hidup karena pada saat makan, menelan atau berbicara akan menyebabkan rasa sakit. Prevalensi SAR bervariasi tergantung pada daerah populasi yang diteliti. Penelitian epidemiologi menunjukkan pada umumnya, prevalensi SAR berkisar 15-25% dari populasi. Tujuan: Mengetahui dan menganalisis determinan epidemiologi SAR pada mahasiswa diUniversitas IndonesiaTimur Makassar.Metode:Jumlahsampel penelitian cross sectional study ini 471 orang didasari teknik pengambilan sampel purposive sampling. Data dianalisis dengan uji chi-square. Hasil: Umurdewasamuda(X2hitung0,000,pvalue 0,986),jeniskelamin(X2hitung12,122,pvalue0,048),statussosiokonomi(X2hitung 14,807, pvalue 0,002), trauma (X2hitung 2,145, pvalue 0,143), riwayat keluarga (X2hitung 15,102, pvalue 0,001), alergi (X2hitung 16,102, pvalue 0,001), stres (X2hitung 0,275, pvalue 0,600), penggunaan pasta gigi berbusa (X2hitung (17,115, p=0,000), perawatan (X2hitung (16,124, pvalue 0,000) dengan SAR. Simpulan: Jenis kelamin, status sosiokonomi, riwayat keluarga, alergi, penggunaan pasta gigi berbusa, dan perawatan merupakan determinan epidemiologi SAR.

Published
2019-12-24